Banyak orang yang
beramai-ramai menuliskan bahwa dirinya adalah seorang backpacker. Gendong
tas ransel yang segede kulkas lalu selfie di suatu tempat dan bilang “gw
backpacker”. Ah rasanya semua orang bisa jadi backpacker, gampang
banget kan, tinggal beli tas carrier abis itu pergi jalan-jalan deh.
Emang sih sampai sekarang belum ada seorang ahli yang benar-benar mendeskripsikan
apa itu backpacker. Kita lihat apa itu backpacker di mata
orang-orang, ada yang bilang backpacker itu para budget traveler,
jadi semakin sedikit uang yang dikeluarkan semakin hebatlah dirinya. Ada lagi
yang menjelaskan kalau backpacker adalah orang yang melakukan perjalanan
dengan tas punggung, kalaupun lo jalan dengan budget yang minim tapi
bawa koper, mereka gak akan ngakuin lo sebagai backpacker. Ya setiap
orang boleh-boleh saja berpendapat. Tapi yang menarik perhatian gw ada yang
jelasin backpacker itu adalah seorang smart traveler, narsis juga ya
menganggap dirinya smart, mungkin pengetahuannya di atas rata-rata traveler
lainnya. Smart ini berarti dia pintar mengatur waktu, pintar mengatur budget,
dan pintar dalam hal-hal lainnya. Kalau ada yang merasa kurang smart
jangan berharap bisa jadi backpacker ya.
Gw sendiri mungkin
belum bisa dikatakan sebagai seorang Backpacker, soalnya gw bukan orang
yang smart. Tetapi membawa tas ransel di punggung sudah gw jalanin dari
dulu, seperti pas gw keluar dari asrama dan berhenti kuliah. Ya gw bawa semua
pakaian dan barang-barang ke dalam tas carrier dan gw melakukan
perjalanan untuk mecari tempat tinggal. Memasuki perkampungan di tengah-tengah
kota Jakarta, masuk ke gang-gang sempit sampai akhirnya menemukan tempat
tinggal dengan harga murah. Setidaknya lumayan mirip backpacker kan,
sama kok gw juga melakukan perjalanan dengan budget yang sangat terbatas
walaupun gw kurang smart. Waktu itu gw jadi pusat perhatian juga, maklum
macem orang yang baru turun gunung, soalnya bawa tas carrier ini identik
juga sama para pendaki. Nah klo gitu berarti seorang pendaki juga bisa ya
disebut backpacker, karena mereka melakukan perjalanan dengan tas
ransel. (baca juga artikel Gaya Traveling)
Tapi terus terang,
setiap gw traveling, gw gak bisa yang namanya harus ngatur budget
yang sangat minim, ngatur hidup aja susah, apalagi ngatur budget ya. Perjalanan
jadi gak nyaman kalau menurut gw ya. Misalnya ada makanan enak di suatu tempat
yang kita kunjungi, tapi karena harus menghemat atau menggunakan budget yang
seminim mungkin biar tampak keren jadi gak bisa deh beli buat nyobain tuh makanan.
Kalau gw sih prinsipnya, kalau masih ada uang yang beli aja, atau coba aja. Menghemat
sih boleh-boleh aja ya, tapi jangan sampai terlalu pelit, malah tidak bisa
menikmati perjalanan kalau begitu caranya. Tapi kembali ke masing-masing
pribadinya. Jadi kesimpulannya karena gw kurang smart dan tidak bisa traveling
dengan budget yang sangat terbatas, gw gak lulus jadi seorang backpacker.

Backpacker, traveler, dan sebutan semacamnya itu hanya label. Mending terus jalan2 saja daripada sibuk dengan pelabelan yang tidak perlu itu :)
ReplyDeleteBener banget masbro, kadang orang menjadi sombong karena label-label itu. Salam jelajah...:)
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeletenanti kalau uda lulus kuliah dan dapet kerja, gue pingin jadi seorang traveller biar bisa melihat indahnya dunia :)
ReplyDeletetapi kayaknya kalau ada status "bacpaker" jadi lebih keren gituuu
hahaha...tetep ya biar keren dengan labelnya.
Delete