Skip to main content

Gaya Traveling


diambil dari akun twiitter @COZMEEDer

Traveling sudah menjadi tren baru yang terus digandrungi masyarakat Indonesia. Baik yang bepergian ke luar negeri atau hanya di dalam negeri. Gaya traveling pun berbeda-beda, dari yang backpacker sampai yang mengikuti progam tour. Liburan memang sangat diperlukan untuk merefresh kembali pikiran kita yang sudah jenuh belajar ataupun bekerja. Untuk melakukan sebuah perjalanan liburan, pastinya ada budget yang harus disiapkan begitu juga dengan tujuannya. Setelah mengamati gaya traveling masyarakat kita, saya membaginya menjadi 4 bagian:


1. Gembel
Tipe ini sebenarnya bukan 'gembel' dalam artian yang sesungguhnya. Tipe ini cenderung menggunakan budget yang sangat minim. Mereka hanya pergi dengan tiket pesawat promo dengan harga yang tidak masuk akal. Jangan harapkan mereka mau traveling kalau tidak ada tiket promo. Hotel, hostel, atau losmen adalah tempat yang mereka hindari. Bermalam di bandara, atau di tempat-tempat lainnya menjadi pilihan. Soal makanan pun sangat dibatasi, kalau perlu hanya makan satu kali. Tipe ini sangat suka bepergian dalam bulan puasa, karena selain menghemat biaya makan, juga bisa numpang makan gratis di masjid-masjid yang ditemui.

2. Pecinta Tour
Kelompok pecinta tour adalah kumpulan orang yang mungkin sibuk, tidak ada waktu mengurusi tiket, penginapan ataupun lainnya. Mereka memilih membeli paket tour yang jelas progamnya dan sesuai budget yang ada. Tapi ada juga yang karena takut, takut nyasar, takut tidak bisa berkomunikasi, dan ketakutan lainnya. Mereka memilih berlibur sambil ditemani pemandu wisata, dan merasa nyaman karena ditemani orang lokal setempat. Ya tipe ini adalah tipe yang mencari aman, tidak mau repot, dan tinggal terima jadi.

3. High Class
Naik pesawat kelas bisnis, hotel bintang lima, kendaraan VIP selama berlibur, ya itulah pilihan tipe ini. Jangan harapkan mereka mau membeli sesuatu yang murah. Tipe ini adalah orang-orang yang takut pada harga murah. Mereka hanya mau dengan sesuatu yang mahal, karena yang mahal pasti berkualitas, ya itulah kepercayaan mereka. Rata-rata tipe ini adalah dari kalangan atas, yang memiliki kekayaan yang cukup untuk 7 turunan.

4. Backpacker
Tipe backpacker tidak sama dengan tipe 'gembel' ya, karena tidak semua backpacker itu suka ngegembel. Mereka ini pejalan mandiri, semua mereka atur secara sendiri. Dari penginapan, tiket pesawat, sampai hal-hal lainnya. Mereka lebih menikmati perjalanan yang mereka atur sendiri, tersesat sudah jadi makanan biasa dalam perjalanan mereka. Tapi sangat disayangkan kalau mereka yang mengaku backpacker ini bersikap angkuh dan sombong. Banyak dari mereka yang merasa paling keren dan paling hebat sedunia, dan merendahkan gaya traveling lainnya.

Itulah tipe-tipe gaya traveling menurut pengamatan saya sendiri. Kalau saya sendiri sepertinya masuk dalam kriteria khusus, sulit dijabarkan, dan dijelaskan, mungkin nanti akan saya tuliskan mengenai gaya traveling yang saya anut.

Comments

Popular posts from this blog

Pattaya 18+

Pattaya adalah salah satu kota yang terletak di Provinsi Chonburi, Thailand. Dulunya sekitar tahun 1960 an, Pattaya ini hanya desa nelayan. Pada jaman perang Vietnam, banyak tentara Amerika Serikat yang bermukim di Pattaya sebelum berangkat menuju medan perang. Dari situlah penduduk di Pattaya mulai beralih profesi, mereka mulai membangun bar, dan tempat hiburan lainnya. Sampai sekarang Pattaya memang terkenal sebagai pusat hiburan malamnya Thailand. Pattaya menjadi salah satu kota di Thailand yang berkembang secara pesat. Apartemen mewah dan hotel terus bertambah, sehingga Pattaya juga menjadi daya tarik bagi para pencari kerja yang berasal dari daerah lainnya.

Senja di Bulan Desember

Jatuh cinta bukan hanya soal kesenangan semata, tapi berbicara mengenai rasa...

Keluarga Baru di Phnom Penh (Kamboja)

Pertengahan tahun 2013 saya berkesempatan mengunjungi Phnom Penh (Kamboja). Sebenarnya bukan acara liburan, karena waktu itu ijin tinggal saya di Bangkok telah habis. Saya perlu waktu lebih lama untuk mengurus dokumen yang diperlukan untuk Student Visa. Saya pilih jalur udara, kalau pakai jalur darat hanya diberikan waktu 14 hari ijin tinggal. Jadi saat berangkat budget saya benar-benar sangat minim.