Skip to main content

Hidup adalah Perjuangan (Belalang Tempur)


Kehidupan itu seperti belalang, yang selalu melompat dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan tak jarang belalang kembali pada satu titik yang sama. Belalang sebenarnya tak punya apa-apa untuk melindungi dirinya. Belalang hanya dianugerahi kaki untuk melompat. Kapan saja belalang bisa mati dimangsa hewan lainnya yang lebih besar. Tapi belalang tidak hanya pasrah, belalang selalu bertempur dengan kehidupan, dan tak akan pernah berhenti melompat sampai ia mati.

Jakarta 2010
            Siang itu cuaca di Jakarta cukup panas. Aku berdiri di sebuah metromini yang penuh sesak. Metromini yang setia mengantarku setiap hari ke kampus. Pengamen memainkan gitarnya yang terdengar sumbang, suara yang keluar dari mulutnya tak seirama dengan petikan gitarnya. Mata merah, entah mabuk atau mungkin dia kurang tidur. Tapi aku tak senang dengan tipe pengamen macam itu, kadang dia mengitimidasi orang-orang yang tak memberikan uang padanya. Polusi udara dan panasnya cuaca membuat wajahku tampak kusam, ditambah rambut gondrong yang tak terurus, tampaklah aku seperti penjahat. Tapi ada unutungnya juga, para pengamen ataupun si orator yang hanya bercuap-cuap sama setiap harinya tak pernah sekalipun memaksaku memberi uang. Jakarta memang penuh sesak manusia. Kota ini seperti tanah terjanji, orang selalu berbondong-bondong datang. Mereka datang dengan mimpi-mimpi yang mereka bawa. Padahal Jakarta sudah tampak kelelahan untuk menampung mereka.
            Akhirnya aku tiba di kampus dengan selamat. Sebenarnya setiap hari aku dan ribuan orang lainnya bermain dengan kematian. Lihat saja cara supir-supir itu mengendarai metromini, mereka tak peduli keselamatan, mereka hanya kejar setoran. Metromini ini macam kaleng kerupuk yang dihempaskan ke jalan, sekali saja kecelakaan akan mudah hancur beserta isinya. Karena kelas Filsafat Manusia sudah hampir dimulai, aku segera masuk ke dalam kelas tanpa sempat ngopi di warung pojok. Dosen mulai menerangkan sesuatu, tapi aku merasa dosen seperti mendongengkan cerita untuk anak sebelum tidur. Tak lama kemudian aku masuk ke alam mimpi. Tapi mimpi ini tak berjalan lama, dosen melihatku pulas dalam tidur, dan akhirnya mengusirku ke luar kelas. Aku kuliah di salah satu Sekolah Tinggi Filsafat yang ada di Jakarta. Kampus ini tak terlalu besar, jumlah mahasiswanya juga sedikit dan didominasi oleh mahasiswa laki-laki. Tempat ini terlalu maskulin, angkatanku saja hanya ada seorang perempuan. Mungkin wanita tak banyak yang tertarik dengan Filsafat. Karena aku diusir keluar, aku memilih warung pojok untuk sekedar ngopi. Segelas kopi hitam dan sebatang rokok kretek menemaniku dalam siang itu.
            Tinggal hampir enam tahun di dalam asrama membuatku sedikit merasa jenuh dengan keseharian. Rasanya waktu itu aku tak mau pulang ke asrama, aku ingin bebas mengatur hidupku. Kepala ini penuh dengan pertanyaan, tapi aku tak berdaya untuk menjawab semuanya. Aku ingin memulai hidup yang baru, tapi tak berdaya dengan keadaan. Jam kuliah telah berakhir, waktu itu aku putuskan untuk menemui salah seorang teman kecilku. Aku pergi ke kostannya di daerah Jakarta Selatan. Kami berbincang banyak soal kehidupan di dalam kamar kostannya yang tak terlalu besar tapi mewah menurutku karena kamar mandinya ada di dalam, dilengkapi pendingin ruangan dan televisi layar datar. Temanku ini kuliah malam, jadi siangnya bekerja. Terus terang waktu itu aku ingin mencoba merasakan hidup seperti temanku ini. Ada kebebasan yang bisa kulihat. Perasaan ingin keluar dari asrama terus menggebu, ditambah perekonomian keluarga yang sedang jatuh. Ada impianku ingin membantu orang tua,setidaknya kalau aku hidup di luar pasti bisa mencari pekerjaan. Setelah pulang ke asrama, kepala ini dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang harus kujawab segera mungkin.
            Sebagai laki-laki yang sudah dewasa aku harus mengambil keputusan untuk hidupku. Mulai saat itu aku banyak merenung di dalam kamar sambil menatap ke luar jendela. Kehidupan tak lagi bermakna saat kita menjalaninya hanya sebagai rutinitas biasa. Tidak ada tujuan dan impian yang ingin dicapai. Semuanya seperti sia-sia, seakan mengubur harapan yang sedang tumbuh. Saat itu yang kupikirkan adalah secepatnya mengambil keputusan. Tentunya sebuah keputusan yang akan merubah hidupku. Aku mulai menulis refleksi kehidupan yang kujalani saat itu. Tulisan ini yang akan kuberikan kepada kepala asrama, isinya tentang apa yang kurenungkan dan membuatku sulit tidur setiap harinya. Setelah selesai, aku berjalan dengan tegap dan penuh keyakinan menuju kantor kepala asrama. Kuberikan dua halaman kertas kepadanya.
            Kehidupan di asrama adalah bagian terbaik di dalam hidupku, dan ini tak pernah bisa kupungkiri. Dari sana aku dibekali kemandirian, kejujuran, kebersamaan, serta nilai-nilai hidup yang mungkin tak akan pernah bisa kudapatkan selama di luar. Di sanalah aku dibentuk menjadi pribadi yang tangguh. Dan dari asramalah aku menyadari tujuan hidup mana yang ingin kuraih. Aku kembali ke kamar setelah bertemu dengan kepala asrama. Aku sudah lama tak menangis, tapi saat itu aku tak bisa menahan lagi air mata, aku menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Tangisan yang sangat emosional keluar begitu saja. Tapi dari tangisan itu juga ada harapan dan impian baru yang menggebu. Kehidupan baru sudah ada didepanku, dan akan kuperjuangkan sekuat tenaga. Aku sudah tinggal di asrama semenjak lulus SMP, jadi cukup wajar jika ada rasa sedih yang muncul saat kuputuskan untuk meninggalkan semuanya.
            Dengan tas ransel sebesar kulkas dan uang 250.000 rupiah aku berjalan perlahan meninggalkan asrama. Sesekali berpaling melihat lagi ke belakang, langkah ini pun membawaku pergi, membawaku ke dunia baru yang belum tahu apa yang akan terjadi. Aku berjalan menuju kostan teman SD ku di daerah Jakarta Selatan. Kuhabiskan waktu selama seminggu tanpa berbuat apa-apa. Waktu terbuang sia-sia aku terlena dengan kebebasan yang kudapat. Dan kabar buruknya temanku berhenti kerja. Masa-masa sulit akan segera datang. Aku mulai menyiapkan rencana untuk mencari pekerjaan secepatnya. Mencari informasi pekerjaan menjadi keseharianku. Keuangan pun mulai menipis, mengurangi jatah makan menjadi jalan keluar saat itu. Kehidupan di luar tidak segampang yang kubayangkan sebelumnya. Panggilan kerjapun tak kunjung datang.
            Waktu itu keadaan temanku juga tak memiliki pekerjaan. Akhirnya kuputuskan untuk mencari tempat tinggal sendiri. Aku menemukan tempat tinggal dengan harga sewa yang cukup murah, hanya 200.000/bulan. Aku menyebutnya Apartemen Cinta, tanpa cinta yang kuat akan sulit untuk tinggal di sana, kamarnya memiliki luas 2 x 3 meter, dindingnya terbuat dari triplek, sekali tendang mungkin roboh, berada di lantai dua. Kamar kecilku memiliki jendela kecil yang langsung menghadap pemukiman lainnya. Tepat di sebelah bangunan ada kandang sapi, baunya terkadang sampai masuk ke kamar, bunyi suara sapi pun membuat suasana kamar seperti di pedesaan. Pada siang hari kondisi kamar lebih mirip kamar sauna, panasnya luar biasa. Maklum saja atap bangunan ini perpaduan asbes dan seng. Tidak ada kipas angin, bahkan bantal saja aku tak punya. Bantal untuk tidurku terbuat dari plastik kresek yang kuisi dengan pakaian kotor. Alas tidur hanya sarung satu-satunya kepunyaanku. Tapi saat itu aku tak pernah mengeluh sama sekali, karena ini semua adalah hasil dari keputusan hidup yang kupilih.Di setiap pilihan tentunya punya resiko tersendiri.
            Tapi aku hanya anak muda biasanya, yang terkadang frustasi dengan keadaan. Semua mimpi-mimpi yang kuinginkan terbentur dengan realitas kehidupan yang ada. Aku mulai menghisap ganja setiap hari. Bukan hanya ganja, sabu yang harganya mahalpun aku konsumsi juga. Aku larut dalam mimpi-mimpi semu setiap harinya. Tapi itu semua kudapatkan secara gratis, aku tak mampu untuk membelinya, makan saja kesulitan apalagi membeli narkoba yang harganya luar biasa. Aku berteman dengan tukang ojek setempat yang juga menjadi bandar narkoba. Kami berteman dekat, sehingga dia menitipkan dagangannya di dalam kamarku. Aku memakainya sesukaku, dan banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Kehidupan yang benar-benar di luar dugaanku dulu. Masuk ke dunia narkoba seperti kita tersesat dalam hutan, akan sangat sulit untuk mencari jalan keluarnya. Hari-hari tak bermakna tanpa berbuat apa-apa, sungguh menyedihkan keadaanku waktu itu.
            Hari demi hari berlalu, aku mulai kesulitan untuk sekedar membeli makanan. Aku mulai menghubungi teman-temanku. Mereka tidak pernah tau aku tinggal di tempat yang sangat minimalis, dan cenderung kumuh ini. Yang mereka tau aku tinggal di kostan di daerah Jakarta Seltan dan dekat dengan daerah Kemang. Pasti mereka kira aku tinggal di tempat yang cukup mewah, kenyataannya berbalik 180 derajat. Aku mengundang teman-temanku untuk sekedar mampir, sambil memesan mie instan atau makanan lainnya untuk dibawa. Beberapa temanpun datang membawakanku makanan. Walau hanya mie instan saja itu sungguh berarti untukku. Setidaknya ada persediaan makanan di kamar. Mereka yang datang cukup miris melihat keadaanku waktu itu. Aku berhenti kuliah, dan menjadi pengangguran. Seorang teman menanyakan mengapa aku tak pulang saja ke rumah. Saat itu keadaan perekonomian keluarga sangat jatuh, aku tak mau membebani mereka. Aku punya mimpi untuk bisa membantu orang tua, walau tak semudah yang kubayangkan. Teman-teman yang datang membuatku kembali sadar akan impian yang ingin kucapai saat kuputuskan keluar dari asrama.
            Makanan spesial pada saat itu adalah nasi dengan lauk usus atau pare, hanya bisa pilih salah satu untuk berhemat. Makanan yang dibeli dari warteg di sekitar tempatku tinggal. Setiap membeli makanan tidak lupa aku selalu bilang begini, “Mbak nasi putihnya dibanyakin ya.” Tanpa malu-malu, yang penting bisa kenyang seharian. Warga sekitar jarang yang mau bertegur sapa, mungkin karena aku orang baru dan berambut gondrong. Pasti mereka sedikit menduga-duga mengenai apa yang kukerjakan. Tatapan mata para tetangga cukup sinis saat melihatku. Karena ingin fokus untuk mendapatkan pekerjaan, akhirnya kuputuskan untuk memangkas rambut gondrongku, dengan harapan segera diterima kerja.
            Aku terlihat lebih rapih dan tampan dengan rambut baruku. Kulihat di cermin macam artis K-pop. Ternyata penampilan baru ini mengubah penilaian tetangga sekitar. Saat aku kembali menyusuri gang-gang sempit ada yang menyapaku, padahal kenal saja tidak. Bahkan keesokan harinya, ibu penjaga warung di bawah kostan mengajakku makan siang, sungguh anugerah yang luar biasa. Sambil bercerita ngalor ngidul, sampai rencananya menikahkan anak gadisnya denganku, tapi di akhir cerita dia bilang, sayang tidak punya anak gadis. Ada-ada saja si ibu penjaga warung, entah kenapa setelah potong rambut, aku menjadi dekat dengan warga sekitar. Ternyata penampilan ini penting juga dimata mereka.
            Di siang hari yang cukup panas, aku tertidur di kamar setelah menghisap ganja yang kucampur dengan tembakau. Telepon gengamku berdering, masih setengah sadar kuangkat panggilan dari temanku. Ada lowongan pekerjaan di salah satu restoran Korea di daerah Senopati (Jakarta Selatan). Aku harus menyerahkan berkas lamaran sekaligus interview keesokan harinya jam Sembilan pagi sampai jam dua siang. Seketika semangatku muncul kembali, ada harapan baru untuk keluar dari ruang lingkup yang kelam ini. Sebenarnya waktu itu aku lelah dengan kehidupan yang tidak jelas dan tak punya tujuan lagi. Terus terang jatuh ke dunia narkotika tak membuatku bahagia, hanya menciptkan imajinasi dan mimpi-mimpi semu, setelah efeknya hilang aku tak pernah melakukan apa-apa. Setidaknya aku hampir saja menemukan jalan keluar setelah lama tersesat.
            Setelah melengkapi berkas untuk lamaran pekerjaan, kami berdua menuju restoran Korea itu. Entah kenapa hari itu aku yakin akan mendapatkan pekerjaan ini. Pekerjaan menjadi seorang pelayan restoran. Akhirnya kami tiba di lokasi, seorang waitress menyapa kami dengan ramah. Kami dipersilahkan mengantri, waktu itu ada beberapa orang saja, mungkin yang lain sudah selesai. Tibalah giliranku, perasaanku waktu itu cukup percaya diri. Manajer restoran yang asli orang Korea duduk di ruangannya, aku dipersilahkan duduk. Namanya Mr. Kim, setelah melihat berkasku dia berkata, “Kamu pernah kuliah, kenapa tidak dilanjutkan? Kerja begini gajinya kecil.” Aku terdiam sejenak. “Saya butuh uang mister, kalau sudah cukup uangnya, pasti saya lanjutkan lagi.” Jawabku dengan pelan. Padahal waktu itu tak pernah terpikirkan untuk melanjutkan kuliah, yang aku pikirkan untuk bertahan hidup saja. Setelah selesai kami berdua langsung kembali pulang.
            Hari itu juga pihak restoran menghubungiku, aku diterima kerja dengan satu syarat. Syaratnya adalah harus mencukur bersih jenggotku. Syarat yang sangat berat, tanpa jenggot aku tak lagi punya pegangan hidup, maklum aku kurang percaya diri tanpa rambut-rambut yang tumbuh di dagu ini. Tapi tentu saja langsung kusanggupi syarat itu. Perasaanku campur aduk, senang dan haru karena akhirnya ada juga yang mau menerimaku kerja. Aku tak peduli mau dibayar berapa, diterima kerja di rumah makan adalah suatu anugerah. Dengan bekerja di sana, pasti tidak akan kekurangan makanan, dan kabar baiknya pihak restoran menyediakan mes untuk karyawannya yang masih single.
            Aku putuskan untuk segera pindah ke mes karyawan. Akhirnya aku menemukan jalan keluar dari ruang lingkup narkotika. Sebenarnya kehidupanku cukup gila, karena kapan saja kostan ku itu bisa saja digerebek polisi. Andai saja aku masih terus tinggal di sana, mungkin sekarang aku tak bisa menghirup udara bebas. Tuhan masih menyayangi diriku, diberikan kesempatan untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Aku masih ingat kejadian yang hampir saja merenggut nyawa, tubuhku waktu itu sudah sangat lemas dan menggigil. Aku terbaring di kamar, dua hari tanpa makan, hanya menghisap sabu dari pagi sampai malam. Tubuh ini rasanya sudah menolak zat-zat beracun itu, apalagi keadaannya cukup lemah karena belum makan. Tapi sekali lagi Yang Kuasa masih memberikanku kesempatan. Kesadaran diri dan impian yang ingin kubangun setelah keluar dari asrama yang membuatku sebenarnya berpikir lagi, kehidupan apa yang ingin kugapai. Di setiap situasi yang sulit, aku yakin akan selalu ada jalan keluarnya. Dan terkadang kita tidak pernah menyadari hal itu, maka kesadaran akan tujuan hiduplah yang harus kita bangun.
            Memulai kehidupan baru sebagai seorang pelayanan restoran, aku bekerja dengan semangat yang cukup besar. Bekerja dimulai jam delapan pagi dengan membersihkan restoran terlebih dulu. Jam Sembilan kembali ke mes untuk mandi dan berganti seragam. Jam sepuluh pagi bekerja sampai jam dua siang. Dari jam dua siang sampai jam lima sore, waktu tidur siang. Menyenangkan ya masih punya waktu untuk tidur siang. Dari jam lima sore bekerja sampai jam sembilan malam, kalau lewat dari itu dihitung lembur. Karena aku menyukai makanan, bekerja di restoran ini sangat menyenangkan tentunya. Makanan-makanan Korea yang masih asing untukku, aku pelajari secara bertahap menu-menu yang ada di sana. Mr. Kim cukup galak, tapi sebenarnya dia sosok yang lembut, dia sering memberikan makanan untuk kucoba, maklum karyawan lainnya tidak bisa mencoba karena makanan korea banyak berbahan dasar babi.
            Gajiku satu bulan sebesar 700.000 rupiah, gaji ini terkadang hanya habis dalam waktu dua hari, karena harus bayar kasbonan di warung. Tetapi tidak masalah, bekerja di restoran tidak akan pernah mati kelaparan. “Masita” menjadi andalan atau penyambung hidup. “Masita” ini singkatan dari makanan sisa tamu. Aku tak pernah malu atau gengsi untuk menyantap makanan-makanan sisa yang masih bisa dikonsumsi. Untuk gizi pastinya sangat terpenuhi, makanan korea banyak berbahan dasar daging dan sayuran. Jika ada bookingan untuk group besar, biasanya akan banyak makanan tersisa, karena menu yang disajikan berupa prasmanan. Aku sungguh bahagia bekerja di sana, selain itu aku mendapatkan teman-teman baru yang luar biasa. Mereka baru saja mengenalku, tapi ada rasa kekeluargaan yang kurasakan. Ada perhatian-perhatian yang mereka berikan, dari mengajariku dengan sabar, sampai membelikan makanan karena mereka tau kadang aku tak punya uang.
            Ada kejadian yang tak bisa kulupakan, memecahkan beberapa piring saat membersihkan meja. Jadi waktu itu aku dan beberapa teman lainnya membersihkan salah satu meja yang ada di lantai dua. Di meja tersebut masih ada sisa minuman dari botol Soju (minuman beralkohol khas Korea) yang beisi setengahnya. Karena kesempatan langka, jadi langsung kutenggak sampai habis setelah kucampur dengan jeruk nipis, karena selama pengamatanku mereka minum Soju dengan cara seperti itu. Ternyata Soju ini cukup keras, dan kebetulan malam sebelumnya aku kurang tidur karena begadang nonton bola di mes. Dengan wajah yang mulai tampak merah, dan konsentrasi yang mulai hilang, tentu tangan ini tak lagi sanggup menahan tumpukkan piring yang kubawa. Aku sadar ada beberapa piring yang mulai keluar jalur dari nampan, tapi suara ini tak bisa keluar, aku ingin minta tolong kepada salah satu teman sebenarnya. Praaang…Priaaaaang…!!! Kaki ini rasanya lemas, pasti Mr. kim akan marah dan memotong gajiku. Suaranya terdengar satu restoran, tapi ternyata keberuntungan masih ada di pihakku. Beberapa detik sebelum piring jatuh ternyata Mr. Kim keluar dari restoran, jadi dia tidak mendengar suara piring yang pecah berantakkan. Teman-teman yang lain langsung membantu membersihkan piring-piring itu. Melakukan pekerjaan dibawah pengaruh alkohol memang sangat tidak dianjurkan.
            Pekerjaan ini kujalani hampir empat bulan. Aku keluar setelah orang tuaku memintaku untuk kembali ke rumah. Mereka ada rencana membangun usaha baru. Sebenarnya aku tak mau merepotkan orang tua, tapi karena mereka membutuhkan tenagaku jadi kuputuskan untuk pulang. Sekitar enam tahun aku tak pernah tinggal bersama orang tua, jadi tidak ada salahnya jika aku kembali pulang. Seperti anak yang hilang, dan akhirnya kembali ke rumah juga. Kedua orang tuaku tak pernah tau apa yang kujalani selama hidup di luar, tapi ini menjadi pengalaman hidup yang berarti. Ada nilai-nilai kehidupan yang kudapatkan, dan tentu mataku telah terbuka dengan realitas kehidupan yang nyata. Tidak semudah yang kubayangkan dulu, penuh perjuangan, dan kehidupan inilah yang membentukku menjadi pribadi yang jauh lebih kuat, dan pribadi yang mau memperjuangkan mimpi-mimpinya.
            Ternyata masakan mama tetap menjadi makanan yang paling enak menurutku. Menunya biasa saja, tapi entah kenapa, kalau makan masakan mama, nafsu makanku jadi sangat luar biasa. Bagaimanapun juga lidah ini telah terbiasa dari aku kecil sampai sebesar ini berkat makanan yang mama masak. Rindu ini terobati juga, aku tinggal di rumah kurang lebih dua minggu saja. Usaha yang direncanakan tidak pernah terlaksana, karena modal usaha yang minim. Aku sempat bekerja sebagai penjaga warnet dan tenaga administrasi di sebuah dealer motor, sempat juga merantau ke Makassar dan kembali lagi ke Jakarta.
            Hari terus berganti, berbagai macam pekerjaan telah kujalani, mimpi-mimpiku masih belum terwujud. Pekerjaanku yang terakhir adalah membantu kakakku yang tertua berbisnis pembuatan sofa. Dari sinilah aku mendapatkan inspirasi untuk bisa mempunyai usaha sendiri. Memang tidak mudah, tapi usaha dan kerja keras pasti akan membuahkan hasil. Jangan pernah menyerah dengan keadaan, masa-masa sulitku sudah kulewati, akan ada waktunya kita membangun mimpi-mimpi kita sendiri. Sampai pada akhirnya ada kesempatan yang sangat berharga, ada tawaran bekerja di Thailand. Babak baru lagi dari kehidupanku sudah ada di depan mata.

Bersambung... 







Comments

  1. JOIN NOW !!!
    Dan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.club
    Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.name
    dewa-lotto.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pattaya 18+

Pattaya adalah salah satu kota yang terletak di Provinsi Chonburi, Thailand. Dulunya sekitar tahun 1960 an, Pattaya ini hanya desa nelayan. Pada jaman perang Vietnam, banyak tentara Amerika Serikat yang bermukim di Pattaya sebelum berangkat menuju medan perang. Dari situlah penduduk di Pattaya mulai beralih profesi, mereka mulai membangun bar, dan tempat hiburan lainnya. Sampai sekarang Pattaya memang terkenal sebagai pusat hiburan malamnya Thailand. Pattaya menjadi salah satu kota di Thailand yang berkembang secara pesat. Apartemen mewah dan hotel terus bertambah, sehingga Pattaya juga menjadi daya tarik bagi para pencari kerja yang berasal dari daerah lainnya.

Senja di Bulan Desember

Jatuh cinta bukan hanya soal kesenangan semata, tapi berbicara mengenai rasa...

Keluarga Baru di Phnom Penh (Kamboja)

Pertengahan tahun 2013 saya berkesempatan mengunjungi Phnom Penh (Kamboja). Sebenarnya bukan acara liburan, karena waktu itu ijin tinggal saya di Bangkok telah habis. Saya perlu waktu lebih lama untuk mengurus dokumen yang diperlukan untuk Student Visa. Saya pilih jalur udara, kalau pakai jalur darat hanya diberikan waktu 14 hari ijin tinggal. Jadi saat berangkat budget saya benar-benar sangat minim.