Skip to main content

"Are You Moslem?"


Pada bulan Mei 2013, saya putuskan untuk meninggalkan Jakarta. Tanah kelahiran yang membesarkan saya. Sedih rasanya tidak akan bisa makan bubur ayam atau ketoprak lagi di pagi hari. Tapi apa mau dikata, Jakarta sudah terlalu penat, jenuh rasanya harus berjibaku dengan ribuan orang lainnya di setiap pagi. Terjebak dalam kemacetan sudah menjadi santapan setiap hari. Bukan hanya itu saja, setiap harinya juga harus bermain dengan kematian, menghindar dari metromini yang kebut-kebutan mengejar setoran. Rasanya saya tidak mau menjadi tua di Jakarta, walaupun kota ini tetap saya rindukan dengan segala macam keburukannya.

Saya melanjutkan kehidupan di Bangkok, Thailand. Hidup sendiri di negara orang, tak ada sanak saudara ataupun teman, apalagi uang. Hidup yang penuh keterbatasan, termasuk ijin tinggal. Beberapa bulan pertama, saya harus keluar masuk Thailand-Kamboja. Pilihannya lewat jalur darat, karena murah. Biaya 700 Baht, saya menggunakan agent travel yang mengurusi hal-hal seperti ini. Setiap dua minggu saya harus keluar untuk cap paspor. Dari ribuan orang yang menuju Ban Laem border, saya tidak pernah bertemu dengan orang Indonesia. Di dalam van rata-rata orang Filipina, karena bos travel yang saya gunakan bule berwarganegara Filipina. Yang lainnya rata-rata orang Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja.

Di perbatasan ini banyak terdapat Kasino, sambil menunggu paspor biasanya orang-orang akan bermain di kasino. Ini strategi orang Kamboja, karena di Thailand tidak diperbolehkan mendirikan rumah judi, jadi dibangunlah di perbatasan-perbatasan. Rata-rata yang main memang orang Thailand, uang yang digunakan juga dalam bentuk Baht. Sebenarnya saya tidak tahu sama sekali permainan di sana, tapi karena penasaran saya ikut mencoba. Entah namanya permainannya apa, yang jelas hanya menaruh uang di salah satu kotak yang ada di meja judi. Sebelum saya menaruh uang, saya memperhatikan seseorang yang hampir selalu menang. Rasanya waktu itu saya mirip dewa judi di film-film Hongkong, dengan keyakinan penuh saya taruh uang 500 Baht ke dalam salah satu kotak. Dan ternyata saya menang, 500 baht uang saya dikembalikan menjadi 1000 Baht. Dan ternyata itu permainan terakhir, beruntungnya saya. Di perbatasan ini juga banyak dijual rokok-rokok palsu dengan berbagai merek dan harganya sangat murah. Tapi setiap orang hanya diperbolehkan membeli satu slop saja.

Di loket imigrasi Kamboja, saya tidak perlu hadir, tapi di loket imigrasi Thailand, setiap orang wajib membawa paspornya masing-masing. Orang Vietnam, Kamboja, dan Laos, walaupun jalur darat mereka mendapatkan ijin tinggal 30 hari, berbeda dengan orang Indonesia dan Filipina yang hanya mendapat ijin tinggal 14 hari jika melalui jalur darat. Jadi cukup melelahkan, dan membuat halaman paspor kita cepat sekali penuh. Seringkali saya mendapatkan perlakuan yang berbeda, mungkin jarang sekali orang Indonesia yang menggunakan jalur ini. Yang lain biasanya sangat cepat, dan langsung dicap tanpa ada pertanyaan-pertanyaan, tetapi saya memakan waktu lebih lama dari yang lain. Kadang petugas mengecek beberapa kali di komputernya, dan melihat foto paspor dengan wajah saya yang asli. Waktu itu saya memang memelihara jenggot, jadi agak berbeda dengan foto paspor. Tapi saya tetap percaya diri, lagi pula nama saya tidak ada nama arabnya.

"What are you doing in here?" tanya staf dengan logat Thai.
"Holiday." liburan yang sangat panjang tentunya.
"Are you Moslem?" pertanyaannya sudah mulai aneh, kenapa jadi mengarah ke agama, mungkin karena saya menggunakan jenggot, dan berasal dari Indonesia. Mungkin saja mereka takut kalau saya teroris. Padahal hanya sebagian kecil orang Indonesia yang menjadi teroris. Dan mereka hanya menggunakan nama Islam. Karena seperti yang saya yakini Islam dan teroris adalah sesuatu yang sangat berbeda.
"Im Chatolic sir." jawab saya dengan santai.
"Ok, thank you." akhirnya paspor saya dicap juga.

Setelah dokumen sekolah saya lengkap, saya tidak lagi menggunakan jalur ini, karena saya memilih Student Visa. Melihat kabar yang sekarang, keluar masuk seperti ini hanya diperkenankan satu kali, hal ini diperketat setelah Thailand dipimpin oleh Junta Militer. Beginilah repotnya tinggal di negara orang, harus meluangkan waktu untuk hal-hal seperti ini. Dimana-mana bisa saja terjadi diskriminasi, tapi semua bagaimana kita menyikapinya. Jangankan di Thailand di negara sendiri saja kadang saya mengalami diskriminasi juga. Tetapi saya tidak mau ambil pusing dengan hal-hal seperti ini, berikan sedikit senyuman dan nikmati kehidupan.


Comments

  1. naahh. aku jg baru ngalamin hal kayak gini. dicap pengikut isis cuma karna punya jenggot dan kumis. what the heck.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...terkadang memang orang melihat dari luarnya saja ya.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pattaya 18+

Pattaya adalah salah satu kota yang terletak di Provinsi Chonburi, Thailand. Dulunya sekitar tahun 1960 an, Pattaya ini hanya desa nelayan. Pada jaman perang Vietnam, banyak tentara Amerika Serikat yang bermukim di Pattaya sebelum berangkat menuju medan perang. Dari situlah penduduk di Pattaya mulai beralih profesi, mereka mulai membangun bar, dan tempat hiburan lainnya. Sampai sekarang Pattaya memang terkenal sebagai pusat hiburan malamnya Thailand. Pattaya menjadi salah satu kota di Thailand yang berkembang secara pesat. Apartemen mewah dan hotel terus bertambah, sehingga Pattaya juga menjadi daya tarik bagi para pencari kerja yang berasal dari daerah lainnya.

Senja di Bulan Desember

Jatuh cinta bukan hanya soal kesenangan semata, tapi berbicara mengenai rasa...

Keluarga Baru di Phnom Penh (Kamboja)

Pertengahan tahun 2013 saya berkesempatan mengunjungi Phnom Penh (Kamboja). Sebenarnya bukan acara liburan, karena waktu itu ijin tinggal saya di Bangkok telah habis. Saya perlu waktu lebih lama untuk mengurus dokumen yang diperlukan untuk Student Visa. Saya pilih jalur udara, kalau pakai jalur darat hanya diberikan waktu 14 hari ijin tinggal. Jadi saat berangkat budget saya benar-benar sangat minim.