Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2015

Senja di Koh Samet

Sebelum pulang ke Indonesia, saya menyempatkan diri untuk pergi berlibur. Seperti biasanya saya tidak merencanakan liburan jauh-jauh hari, bahkan untuk penginapan juga belum ada. Maka dari itu saya bukan backpacker, karena saya bukan seorang smart traveler. Mungkin suatu hari nanti kalau saya sudah sedikit smart baru bisa dikatakan sebagai seorang 'Backpacker'. Pilihan saya jatuh pada Samet Island (Koh Samet), pulau ini ada di provinsi Rayong atau 220 km dari Bangkok, menyebrang dengan kapal selama 30 menit.

I Love My Job

Selama di Thailand gw ini kerjaannya nemenin tamu dari Indonesia yang lagi liburan. Tapi gw bukan guide ya, karena guide (pemandu wisata) ini harus warga negara asli Thailand. Gw nemenin guide-guide yang masih belum bisa berbahasa Indonesia. Tamu-tamu yang gw bawa ini berbeda-beda tipenya. Ada yang gila shopping , ada yang suka ke club malam, dan ada juga yang suka dengan sejarah Thailand.

I'm Not a Backpacker

Banyak orang yang beramai-ramai menuliskan bahwa dirinya adalah seorang backpacker. Gendong tas ransel yang segede kulkas lalu selfie di suatu tempat dan bilang “gw backpacker” . Ah rasanya semua orang bisa jadi backpacker , gampang banget kan, tinggal beli tas carrier abis itu pergi jalan-jalan deh. Emang sih sampai sekarang belum ada seorang ahli yang benar-benar mendeskripsikan apa itu backpacker . Kita lihat apa itu backpacker di mata orang-orang, ada yang bilang backpacker itu para budget traveler , jadi semakin sedikit uang yang dikeluarkan semakin hebatlah dirinya. Ada lagi yang menjelaskan kalau backpacker adalah orang yang melakukan perjalanan dengan tas punggung, kalaupun lo jalan dengan budget yang minim tapi bawa koper, mereka gak akan ngakuin lo sebagai backpacker . Ya setiap orang boleh-boleh saja berpendapat. Tapi yang menarik perhatian gw ada yang jelasin backpacker itu adalah seorang smart traveler , narsis juga ya menganggap dirinya smart , mungkin pengetahuan...

Gaya Traveling

diambil dari akun twiitter @COZMEEDer Traveling sudah menjadi tren baru yang terus digandrungi masyarakat Indonesia. Baik yang bepergian ke luar negeri atau hanya di dalam negeri. Gaya traveling pun berbeda-beda, dari yang backpacker sampai yang mengikuti progam tour. Liburan memang sangat diperlukan untuk merefresh kembali pikiran kita yang sudah jenuh belajar ataupun bekerja. Untuk melakukan sebuah perjalanan liburan, pastinya ada budget yang harus disiapkan begitu juga dengan tujuannya. Setelah mengamati gaya traveling masyarakat kita, saya membaginya menjadi 4 bagian:

Hidup adalah Perjuangan (Belalang Tempur)

Kehidupan itu seperti belalang, yang selalu melompat dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan tak jarang belalang kembali pada satu titik yang sama. Belalang sebenarnya tak punya apa-apa untuk melindungi dirinya. Belalang hanya dianugerahi kaki untuk melompat. Kapan saja belalang bisa mati dimangsa hewan lainnya yang lebih besar. Tapi belalang tidak hanya pasrah, belalang selalu bertempur dengan kehidupan, dan tak akan pernah berhenti melompat sampai ia mati.

"Are You Moslem?"

Pada bulan Mei 2013, saya putuskan untuk meninggalkan Jakarta. Tanah kelahiran yang membesarkan saya. Sedih rasanya tidak akan bisa makan bubur ayam atau ketoprak lagi di pagi hari. Tapi apa mau dikata, Jakarta sudah terlalu penat, jenuh rasanya harus berjibaku dengan ribuan orang lainnya di setiap pagi. Terjebak dalam kemacetan sudah menjadi santapan setiap hari. Bukan hanya itu saja, setiap harinya juga harus bermain dengan kematian, menghindar dari metromini yang kebut-kebutan mengejar setoran. Rasanya saya tidak mau menjadi tua di Jakarta, walaupun kota ini tetap saya rindukan dengan segala macam keburukannya.

Keluarga Baru di Phnom Penh (Kamboja)

Pertengahan tahun 2013 saya berkesempatan mengunjungi Phnom Penh (Kamboja). Sebenarnya bukan acara liburan, karena waktu itu ijin tinggal saya di Bangkok telah habis. Saya perlu waktu lebih lama untuk mengurus dokumen yang diperlukan untuk Student Visa. Saya pilih jalur udara, kalau pakai jalur darat hanya diberikan waktu 14 hari ijin tinggal. Jadi saat berangkat budget saya benar-benar sangat minim.

Travel Philosophy (Kebahagiaan)

Tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan. (Aristoteles) Bukankah perjalanan hidup ini menuju pada kematian? Jadi buat apa resah memikirkan perjalanan itu sendiri, nikmatilah! Terkadang kita lupa menikmati kehidupan yang sedang dijalani. Kesibukkan sehari-hari membuat seseorang menjadi seperti mesin. Pekerjaan memang yang utama untuk melanjutkan kehidupan, tak dipungkiri sebagai manusia kita membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan pokok kita. Yang menjadi masalah adalah ketika kita lupa untuk menghargai diri kita sendiri, berikanlah ruang untuk sekedar menikmati kehidupan yang telah diberikan. Kebahagiaan yang dikatakan oleh Aristoteles sebagai tujuan hidup manusia memang benar adanya. Hanya saja setiap orang pasti memiliki definisi yang berbeda soal "Kebahagiaan" itu sendiri.

Pattaya 18+

Pattaya adalah salah satu kota yang terletak di Provinsi Chonburi, Thailand. Dulunya sekitar tahun 1960 an, Pattaya ini hanya desa nelayan. Pada jaman perang Vietnam, banyak tentara Amerika Serikat yang bermukim di Pattaya sebelum berangkat menuju medan perang. Dari situlah penduduk di Pattaya mulai beralih profesi, mereka mulai membangun bar, dan tempat hiburan lainnya. Sampai sekarang Pattaya memang terkenal sebagai pusat hiburan malamnya Thailand. Pattaya menjadi salah satu kota di Thailand yang berkembang secara pesat. Apartemen mewah dan hotel terus bertambah, sehingga Pattaya juga menjadi daya tarik bagi para pencari kerja yang berasal dari daerah lainnya.