Skip to main content

HIDUP RASA TOM YUM #2


Selamat Tinggal Nasi Goreng

Gue berangkat ke Thailand dengan kemampuan bahasa Thai yang sangat minim, paling pernah dengar pas lagi nonton Thai Movie, itu juga rada males dengarnya. Suara cempreng dengan intonasi yang naik turun. Dan gue males banget kalau harus belajar lagi, terutama gara-gara huruf-hurufnya yang berbeda pula. Kalau di kota atau tempat yang banyak turisnya sih gak jadi masalah, soalnya banyak yang bisa bahasa Inggris, tapi gue tinggal di pinggiran Bangkok di daerah bangna. Di tempat gue tinggal ini jarang banget ada turis, jadi orang yang bisa bahasa Inggris juga sangat terbatas. Bahkan yang ngurus Apartemen aja gak bisa Bahasa Inggris, jadi kalau gue butuh sesuatu seringkali kami berdua menggunakan bahasa tubuh. 


Pada suatu hari gue memutuskan untuk makan siang di luar, karena di bawah apartemen banyak pedagang kaki lima. Akhirnya gue turun ke bawah dan melihat-lihat makanan apa yang bakal gue makan. Tapi sialnya dari ujung ke ujung, semua menu makanannya pakai huruf Thai, ya pasti gue gak bisa baca. Daripada gue bingung jadi gue piker makan nasi goreng aja kali ya, gampang pasti penjualnya tau. Akhirnya gue pesan lah nasi goreng ayam.

Gue: 1 Chicken Fried Rice please…
Penjual: …………………………….(Si ibu penjual Cuma bengong ngeliatin muka gue)
Gue: 1 (sambil nunjuk jari telunjuk yang gue angkat.), Chicken Fried Rice (sambil gue tunjuk-tunjuk nasi putih.)
Penjual: (tetap tanpa kata), dia celingak celinguk tanda tidak mengerti.

Ternyata memesan nasi goreng tidak semudah yang gue bayangkan sebelumnya. Ya Tuhan saya cuma mau makan nasi goreng kenapa Engkau memberikan cobaan seberat ini. Begonya gue waktu itu gak kepikiran buat search di Mbah Google bahasa Thai nya nasi goreng. Tapi akhirnya datanglah seorang perempuan dengan wajah manis dan berkulit putih mulus tanpa noda. Gue yakin pasti dia ngerti bahasa Inggris, dan gue bilang gue mau nasi goreng ayam. Tapi raut mukanya kok gak meyakinkan ya, tapi setelah itu dia bilang ke si ibu penjual, dan akhirnya gue lega karena ada yang bantuin, jadi gue duduklah di warung itu. 

Setelah sepuluh menit, datanglah nasi goreng yang gue pesan. Setelah dia kasih di depan muka gue, dan gue lihat makanannya, gue cuma bisa nelen ludah. Yang datang bukan nasi goreng seperti yang gue harapkan. Nasi putih yang diatasnya ada daging yang dioseng-oseng dengan daun seperti kemangi. Tarik nafas tiga kali, dan akhirnya gue makan lah tuh makanan yang gue gak tau namanya apa. Tapi ternyata, makanan yang dikasih ke gue rasanya enak, dan gue gak jadi kecewa. Setelah beberapa bulan gue tinggal di sana, ternyata gue tau, kalau tuh cewek yang bantuin gue ternyata bukan orang Thai juga, dia cewek Vietnam dan pastinya gak bisa bahasa Inggris. 

Di saat gue tinggal di Jakarta, nasi goreng benar-benar jadi primadona, seminggu bisa berapa kali makan nasi goreng. Makanan yang sangat praktis, cepat saji, rasanya enak apalagi yang abang-abang lewat depan rumah, dan tentunya murah meriah. Kini riwayat nasi goreng sudah tinggal kenangan, gue jarang banget makan nasi goreng lagi, bukan karena gue gak bisa mesen, kalau sekarang pastinya gue tau nama Thainya nasi goreng. Alasan gue berhenti makan nasi goreng di Thailand cuma satu, kenapa nasi goreng di sini selalu basah, lepek, kayak disiram air. Dan akhirnya gue berhenti makan nasi goreng.

Comments

Popular posts from this blog

Pattaya 18+

Pattaya adalah salah satu kota yang terletak di Provinsi Chonburi, Thailand. Dulunya sekitar tahun 1960 an, Pattaya ini hanya desa nelayan. Pada jaman perang Vietnam, banyak tentara Amerika Serikat yang bermukim di Pattaya sebelum berangkat menuju medan perang. Dari situlah penduduk di Pattaya mulai beralih profesi, mereka mulai membangun bar, dan tempat hiburan lainnya. Sampai sekarang Pattaya memang terkenal sebagai pusat hiburan malamnya Thailand. Pattaya menjadi salah satu kota di Thailand yang berkembang secara pesat. Apartemen mewah dan hotel terus bertambah, sehingga Pattaya juga menjadi daya tarik bagi para pencari kerja yang berasal dari daerah lainnya.

Senja di Bulan Desember

Jatuh cinta bukan hanya soal kesenangan semata, tapi berbicara mengenai rasa...

Keluarga Baru di Phnom Penh (Kamboja)

Pertengahan tahun 2013 saya berkesempatan mengunjungi Phnom Penh (Kamboja). Sebenarnya bukan acara liburan, karena waktu itu ijin tinggal saya di Bangkok telah habis. Saya perlu waktu lebih lama untuk mengurus dokumen yang diperlukan untuk Student Visa. Saya pilih jalur udara, kalau pakai jalur darat hanya diberikan waktu 14 hari ijin tinggal. Jadi saat berangkat budget saya benar-benar sangat minim.