Jatuh cinta bukan hanya soal kesenangan semata, tapi berbicara mengenai rasa...
Waktu itu senja telah tiba, aku duduk di tepian Sungai Chaopraya. Melihat matahari yang perlahan tenggelam meninggalkanku. Tapi seorang gadis masih saja setia bersamaku. Namanya Veerapatra Limani, ia datang dari Thailand bagian selatan untuk mengabdi menjadi guru di ibukota. Senyuman manis yang kadang penuh tanya membuat rasa penasaranku semakin besar. Aku ingin mengenalnya lebih dalam. Untaian kata-kata dalam bahasa Inggris yang dipadu dengan bahasa Thailand keluar dari mulutnya, ia bercerita tentang rasa kesepiannya jauh dari keluarga. Aku hanya tersenyum menanggapinya, senyuman yang mengisyaratkan kamu akan baik-baik saja. Aku lebih jauh dari keluarga dan sahabat-sahabatku, seorang diri merantau ke negeri ini. Rasa kesepian terkadang membunuhku dalam kesendirian. Ada rasa kesamaan yang menyatukan aku dan dia, dan membuat kami larut bersama dalam obrolan di sore itu.
Hari ini tepat setahun lebih aku mengenalnya. Dia masih sama, sosok wanita yang kuat dan tangguh. Tapi tetap saja tak mudah untuk memahaminya. Tapi hal itu yang membuatku tertarik pada Beena (nama panggilan untuknya). Kami menumbuhkan rasa secara bersama, menyirami dengan perhatian, dan memupuki dengan kasih sayang. Rasa yang terus kami jaga. Kami berbeda secara iman, Beena seorang pemeluk agama Islam, dan aku sendiri seorang Khatolik. Perbedaan tidak membuat kami berjarak, aku tak pernah memintanya untuk menjadi nasrani, dan ia pun bersikap sama tak pernah menyuruhku untuk mengucapkan kalimat syahadat. Tapi aku tak mau memusingkan persoalan ini, aku bukan seorang ahli hukum agama, hanya manusia biasa yang percaya bahwa rasa ini adalah anugerah dari Sang Pencipta.
Waktu terus berjalan dan tak akan pernah bisa aku hentikan. Hari ini aku merasa baik-baik saja, tapi entah apa yang akan terjadi esok. Aku cuma manusia biasa yang juga memiliki rasa takut, mungkin rasa ini bisa saja mati, entah karena tak disirami atau dipupuki atau sengaja ada yang ingin membunuhnya. Aku ingin terus berlari bersamanya, menari dalam kebahagiaan, dan bermimpi sampai pada suatu titik yang akan membuat aku, dia atau kami, tak lagi ada.
18 Desember 2014
apa yg ada hari ini, belum tentu ada di hari esok :)
ReplyDeleteternyata direfleksikan juga ya masbro, makasih ya udah mampir.
DeleteSaat memandangi senja adalah seperti melegakan seluruh masalah dalam hari :)
ReplyDeleteMas fikri pecinta senja ya ternyata...hehe.
Deletewah ceritanya di sungai chao phraya... makin romantis ih :D
ReplyDeletedi Sungai Ciliwung juga romantis loh...haha
Deletewah, itu ketemu di perjalanan masbro? seru juga bisa jatuh cinta :D
ReplyDeleteketemu di Bangkok Kang, jadinya tinggal di Bangkok deh nih keterusan...hehe
Delete